Sebelum itu, saya akan jelaskan dulu mengenai macam-macam perangkat keras jaringan yang menggunakan subnetting dan routing: router, switch, & hub.
Router adalah sebuah perangkat yang digunakan bersama jaringan data paket. Router terhubung dengan setidaknya dua jaringan, umumnya dua LAN, dua WAN, atau LAN dan jaringan ISP. Router biasanya menjadi sebuah gateway, di mana dua atau lebih jaringan terhubung. Router menggunakan header dan forwarding table untuk menentukan jalur yang terbaik untuk meneruskan paket-paket, serta menggunakan protokol seperti ICMP untuk berkomunikasi satu sama lain dan mengkonfigurasi rute yang terbaik antara dua host.
Gambar 1 Sebuah Router
Switch adalah sebuah perangkat untuk memfilter dan melewatkan paket dalam jaringan LAN. Switch beroperasi pada lapisan data link (lapisan 2) dan kadang-kadang lapisan jaringan (lapisan 3) dari OSI Reference Model dan karena itu mendukung protokol paket. Switch pada saat mengirimkan data mengikuti MAC address pada NIC (Network Interface Card) yang dimiliki masing-masing komputer sehingga switch mengetahui kepada siapa paket ini akan diterima.
Ketika paket data dikirimkan melalui salah satu port pada switch, maka pengiriman paket data tersebut tidak akan terlihat dan tidak terkirim ke setiap port lainnya sehingga setiap port mempunyai bandwidth yang penuh. Selain itu, tidak ada collision/tabrakan yang terjadi antarpaket data. Kalaupun ada, yang terjadi merupakan collision pada port-port yang sedang saling berkirim paket data. Semakin banyak port yang ada pada switch tidak akan mempengaruhi bandwidth yang tersedia untuk setiap port. Kedua hal tersebut menyebabkan kecepatan transfer data lebih terjamin.
Gambar 2 Sebuah Switch
Hub adalah sebuah perangkat terminal koneksi umum dalam jaringan. Umumnya digunakan untuk menghubungkan segmen LAN (biasanya kumpulan host komputer). Hub berisi beberapa port. Ketika sebuah paket data tiba di satu port, paket tersebut disalin ke port lainnya sehingga semua segmen LAN dapat melihat/membaca paket tersebut.
Saat ini hub sudah banyak ditinggalkan dan diganti dengan switch. Salah satu alasan penggantian ini adalah karena hub pada umumnya memiliki kecepatan transfer data yang lebih lambat daripada switch. Hub dan switch mempunyai kecepatan transfer data sampai dengan 100 Mbps, namun kini ada perangkat switch yang sudah dikembangkan sampai kecepatan 1 Gbps.

Gambar 3 Sebuah Hub
Perbedaan yang paling mendasar antara router, switch dan hub adalah sebagai berikut.
- Router bekerja di layer 3 OSI (network), switch bekerja di layer 2 OSI (datalink), hub = kerja di layer 1 OSI (fisik).
- Hub hanya mengulang sinyal yang masuk ke seluruh port yang ada pada hub tersebut tanpa menangani traffic jaringan. Pengulangan sinyal yang berupa paket data tersebut dilakukan ke segala arah (jalur yang ada) walaupun sebenarnya paket data tersebut sudah diterima oleh komputer tujuan. Hal ini akan menyebabkan collision/tabrakan antarpaket data lebih sering terjadi. Namun pada switch, setiap port berfungsi juga sebagai suatu bridge. Jika suatu port terhubung dengan suatu device, maka secara prinsip setiap device akan bersifat independen terhadap device lainnya.
- Transfer data pada switch lebih cepat daripada hub karena switch langsung mengirim paket data ke komputer tujuan, tidak mengirim ke seluruh port yang ada (melakukan broadcast), sehingga bandwidth yang ada pada switch dapat digunakan sepenuhnya.
- Hub hanya bekerja secara half-duplex, artinya sebuah device hanya dapat mengirim atau menerima data pada suatu waktu tertentu. Switch mampu bekerja secara full-duplex, artinya mampu menerima dan mengirimkan data pada saat yang bersamaan.
- Perbedaan mendasar antara switch dan router: router menggunakan metode store and forward, sedangkan switch bekerja dengan cara on-the-fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Lain halnya dengan switch yang hanya mengambil beberapa byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.
Gambar 4 Ilustrasi Penggunaan Router, Switch, & Hub dalam suatu Jaringan
Sekarang akan dijelaskan mengenai subnetting dan routing. Banyak sekali istilah yang terdapat di dalamnya, yaitu:
- Subnet: porsi/blok IP yang merupakan bagian dari jaringan (network sharing)
- Subnetting: teknik pengaturan jaringan yang bertujuan untuk mengefisiensikan pengelolaan dan penggunaan IP address dalam sebuah jaringan.
- Routing: proses di mana suatu item dapat sampai ke tujuan dari satu lokasi ke lokasi lain. Beberapa contoh item yang dapat di-routing: mail, telephone call, dan data.
- DMZ: akronim dari De-Militarized Zone, yaitu suatu metode untuk membuat resource/server di jaringan lokal kita bisa diakses melalui public/internet, tapi jaringan lokal/internal kita tetap terlindungi. Cara kerjanya adalah dengan membuat zona DMZ yang terpisah dari jaringan lokal untuk digunakan sebagai tempat server/resource yang akan diakses untuk publik. Sehingga jaringan LAN kita tetap aman. Client pada jaringan internet mengira bahwa IP yang diaksesnya adalah IP server, padahal itu IP router yang nantinya akan dialihkan oleh router ke server yang sebenarnya. Dan tidak ada yang bisa mengakses jaringan LAN dari internet karena router/firewall tidak akan mengizinkan koneksi apapun selain koneksi ke zona DMZ.
- Static Routing: sebuah router yang memiliki tabel routing statis yang di-setting secara manual oleh para administrator jaringan; merupakan pengaturan routing paling sederhana yang dapat dilakukan pada jaringan komputer. Menggunakan routing statis murni dalam sebuah jaringan berarti mengisi setiap entri dalam forwarding table di setiap router yang berada di jaringan tersebut.
- Dynamic Routing: sebuah router yang memiliki dan membuat tabel routing secara otomatis, dengan melakukan listening terhadap lalu lintas jaringan dan juga dengan saling berhubungan antara router lainnya. Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi satu dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah isi forwarding table, tergantung keadaan jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui keadaan jaringan yang terakhir dan mampu meneruskan data ke arah yang benar.
- Metric: hasil dari perhitungan algoritma yang digunakan oleh protokol routing yang berupa jarak ke tujuan atau ongkos ke tujuan. Setiap jenis protokol routing menggunakan jenis metric yang berbeda.
- Network class
Ada 5 buah kelas pada network class yang diperliatkan pada tabel berikut.
Kelas Range Decimal Oktet ke-1 High-Order Bits Network/Host Default Subnet Mask Jumlah Network Host per Network A 1 - 126*) 0 N.H.H.H 255.0.0.0 126
(27 - 2)16.277.214(224 - 2) B 128-191 10 N.N.H.H 255.255.0.0 16.382
(214 - 2)65.534(216 - 2) C 192-223 110 N.N.N.H 255.255.255.0 2.097.150(221 - 2) 254(28 - 2) D 224-239 1110 Dipakai untuk multitasking E 240-254*) 1111 Dupakai untuk eksperimen dan pengembangan NB: *) = desimal 127 digunakan oleh localhost untuk keperluan IP loopback dan desimal 255 digunakan untuk netmask default. - IPv4
Alamat IP versi 4 (sering disebut dengan Alamat IPv4) adalah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host di seluruh dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256 (didapatkan dari 8 bit) pangkat 4 (karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamat IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255, di mana nilai dihitung dari nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah 256 x 256 x 256 x 256 = 4.294.967.296 host. Bila host yang ada di seluruh dunia melebihi kuota tersebut, maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6. Contoh alamat IP versi 4 adalah 192.168.0.3. - IPv6
Alamat IP versi 6 (sering disebut sebagai alamat IPv6) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan IP versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128 = 3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Contoh alamat IPv6 adalah 21da:00d3:0000:2f3b:02aa:00ff:fe28:9c5a.
- Public network, yaitu sebuah jaringan yang memiliki host-host komputer dengan alamat IP yang unik sehingga tidak akan bisa ada dua komputer beralamat IP publik yang sama persis dalam seluruh jaringan. Dalam hal ini, jaringan tersebut adalah internet. Skema pengalamatan memungkinkan komputer untuk “menemukan satu sama lain” dan melakukan pertukaran informasi. Pengguna tidak memiliki kontrol atas alamat IP (publik) yang diberikan ke komputer. Alamat IP publik diberikan untuk komputer oleh Internet Service Provider/ISP secara langsung setelah komputer terhubung ke gateway Internet.
Sebuah alamat IP publik dapat bersifat statis atau dinamis. Sebuah alamat IP publik yang statis tidak dapat berubah dan digunakan terutama untuk hosting halaman Web atau layanan di Internet. Di sisi lain, sebuah alamat IP publik yang dinamis dipilih dari sebuah pool yang tersedia pada alamat dan perubahan masing-masing terjadi satu kali untuk menghubungkan ke Internet. Sebagian besar pengguna internet hanya akan memiliki IP dinamis yang diberikan untuk setiap komputer. Ketika terjadi disconnected atau jaringan terputus/padam, apabila menghubungkannya kembali, maka otomatis akan mendapat IP baru. - Private network, yaitu suatu jaringan yang menggunakan yang menggunakan alamat IP yang bersifat pribadi. Internet Assigned Numbers Authority (IANA) telah me-reserved tiga blok alamat IP berikut untuk jaringan pribadi (jaringan lokal):
- 10.0.0.0/8 (10.0.0.0 – 10.255.255.255, total alamat: 16.777.216)
Jaringan pribadi (private network) blok ini merupakan sebuah network identifier kelas A yang mengizinkan alamat IP yang valid dari 10.0.0.1 hingga 10.255.255.254. Memiliki 24 bit host yang dapat digunakan untuk skema subnetting di dalam sebuah organisasi privat. - 172.16.0.0/12 (172.16.0.0 – 172.31.255.255, total alamat: 1.048.576)
Jaringan pribadi blok ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah blok dari 16 network identifier kelas B atau sebagai sebuah ruangan alamat yang memiliki 20 bit yang dapat ditetapkan sebagai host identifier, yang dapat digunakan dengan menggunakan skema subnetting di dalam sebuah organisasi privat. Alamat jaringan privat blok ini mengizinkan alamat-alamat IP yang valid dari 172.16.0.1 hingga 172.31.255.254. - 192.168.0.0/16 (192.168.0.0 – 192.168.255.255, total alamat: 65.536)
Jaringan pribadi 192.168.0.0/16 dapat diinterpretasikan sebagai sebuah blok dari 256 network identifier kelas C atau sebagai sebuah ruangan alamat yang memiliki 16 bit yang dapat ditetapkan sebagai host identifier yang dapat digunakan dengan menggunakan skema subnetting apapun di dalam sebuah organisasi privat. Alamat jaringan privat 192.168.0.0/16 dapat mendukung alamat-alamat IP yang valid mulai dari 192.168.0.1 hingga 192.168.255.254.
Alamat IP private/pribadi digunakan untuk penomoran komputer dalam jaringan pribadi, termasuk rumah, sekolah dan LAN bisnis di bandara dan hotel yang memungkinkan komputer dalam jaringan untuk berkomunikasi satu sama lain. Misalnya, jika jaringan X terdiri dari 10 komputer, masing-masing dapat diberikan IP mulai dari 192.168.1.1 ke 192.168.1.10. Berbeda dengan IP publik, administrator jaringan pribadi bebas untuk menetapkan alamat IP dari pilihannya sendiri (disediakan nomor IP pada kisaran alamat IP pribadi seperti yang disebutkan di atas).
Suatu host dengan alamat IP private tidak dapat terhubung langsung ke Internet. Demikian juga, host di luar jaringan lokal (Internet) tidak dapat terhubung langsung ke perangkat dengan alamat IP pribadi. Hal ini dimungkinkan untuk menghubungkan dua jaringan pribadi dengan bantuan router atau perangkat serupa yang mendukung Network Address Translation (NAT). - 10.0.0.0/8 (10.0.0.0 – 10.255.255.255, total alamat: 16.777.216)
Berikut ini contoh perhitungan subnetting. Di sini kita mengasumsikan ada suatu jaringan yang menggunakan alamat IP general 10.151.32.0/19. Jaringan tersebut dibagi sebanyak 5 subnet, dengan jumlah host pada subnet-subnet tersebut secara berurutan berjumlah 342, 256, 999, 25, dan 2 host.
Pada OS Linux, terdapat sintaks-sintaks terkait dengan static routing. Berikut penjelasan beserta contohnya.
- Untuk subnet yang berisi 342 host
Jumlah host < 2n – 2
342 < 2n – 2
344 < 2n
n > 2log 344, diambil yang batas atasnya, yaitu 9
Jadi n = 9
Subnet mask : 32 – 9 = 23, jadi subnet mask-nya /23
Netmask : 255.255.254.0 (11111111.11111111.11111110.00000000)
NID : 10.151.32.0
Gateway : 10.151.32.1
Range/Alokasi IP : 10.151.32.2 – 10.151.33.254
Broadcast address: 10.151.33.255 - Untuk subnet yang berisi 256 host
Jumlah host < 2n – 2
256 < 2n – 2
258 < 2n
n > 2log 258, diambil yang batas atasnya, yaitu 9
Jadi n = 9
Subnet mask : 32 – 9 = 23, jadi subnet mask-nya /23
Netmask : 255.255.254.0 (11111111.11111111.11111110.00000000)
NID : 10.151.34.0
Gateway : 10.151.34.1
Range/Alokasi IP : 10.151.34.2 – 10.151.35.254
Broadcast address: 10.151.35.255 - Untuk subnet yang berisi 999 host
Jumlah host < 2n – 2
999 < 2n – 2
1001 < 2n
n > 2log 1001, diambil yang batas atasnya, yaitu 10
Jadi n = 10
Subnet mask : 32 – 10 = 22, jadi subnet mask-nya /22
Netmask : 255.255.254.0 (11111111.11111111.11111100.00000000)
NID : 10.151.36.0
Gateway : 10.151.36.1
Range/Alokasi IP : 10.151.36.2 – 10.151.39.254
Broadcast address : 10.151.39.255 - Untuk subnet yang berisi 25 host
Jumlah host < 2n – 2
25 < 2n – 2
27 < 2n
n > 2log 27, diambil yang batas atasnya, yaitu 5
Jadi n = 5
Subnet mask : 32 – 5 = 27, jadi subnet mask-nya /27
Netmask : 255.255.255.224 (11111111.11111111.11111111.11100000)
NID : 10.151.40.0
Gateway : 10.151.40.1
Range/Alokasi IP : 10.151.40.2 – 10.151.40.30
Broadcast address: 10.151.40.31 - Untuk subnet yang berisi 2 host
Jumlah host < 2n – 2
2 < 2n – 2
4 < 2n
n > 2log 4, diambil yang batas atasnya, yaitu 3
Jadi n = 3
Subnet mask : 32 – 3 = 29, jadi subnet mask-nya /29
Netmask : 255.255.255.248 (11111111.11111111.11111111.11111000)
NID : 10.151.41.0
Gateway : 10.151.41.1
Range/Alokasi IP : 10.151.41.2 – 10.151.41.6
Broadcast address: 10.151.41.7
- CIDR (Classless InterDomain Routing) adalah suatu metode untuk mengalokasikan alamat IP dan mengarahkan/melakukan routing paket data, yang dikembangkan IETF (Internet Engineering Task Force) pada tahun 1993, menggantikan metode pengalamatan desain jaringan yang classful/berbasis kelas yang sebelumnya berlaku sejak tahun 1981. Tujuan diadakannya CIDR adalah untuk memperlambat laju perkembangan routing table yang ada pada router di internet serta laju habisnya alamat IP versi 4.
Metode ini menggunakan notasi yang diletakkan di setelah alamat IP dengan panjang tertentu, didahului dengan tanda garis miring (/). Notasi tersebut disebut network prefix. Panjang notasi ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID. Metode CIDR dengan network prefix dapat diterapkan pada semua kelas alamat IP sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif. Dengan menggunakan metode CIDR, kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak berkelas, tergantung dari kebutuhan pemakai.
Sebagai contoh, alamat IP CIDR 192.168.12.0/23. /23 yang disebut sebagai subnetwork mask/subnet mask suatu alamat IP, dapat ditulis sebagai netmask 255.255.254.0. Alamat ini merupakan kisaran alamat 192.168.12.0 - 192.168.13.255. Dibandingkan dengan metode lama yang berbasis kelas, 192.168.12.0/23 merupakan agregasi dari dua network ID dari kelas C: 192.168.12.0 dan 192.168.13.0, yang memiliki netmask 255.255.255.0. Dengan kata lain, 192.168.12.0/23 = 192.168.12.0/24 + 192.168.13.0/24. Contoh lainnya, alamat CIDR 10.4.12.0/22 mewakili rentang alamat IP 10.4.12.0 - 10.4.15.255 (netmask 255.255.252.0). Alokasi rentang alamat tersebut setara dengan empat network ID kelas A. Terkadang CIDR juga bisa digunakan untuk jaringan non-CIDR. Dalam non-IP CIDR subnetting, bagaimanapun nilai network prefix dibatasi dengan nilai dari masing-masing kelas adalah: 8 untuk kelas A, 16 untuk kelas B, dan 24 untuk kelas C) Contoh: 10.0.0.0/8, 172.16.1.0/16, dan 192.168.3.0/24.
Berikut adalah tabel blok CIDR. - VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah suatu metode untuk memberikan suatu network address lebih dari satu netmask. Pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik network address yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai alamat IP lokal dan alamat IP ini tidak dikenal dalam jaringan internet, namun tetap dapat melakukan koneksi ke jaringan internet. Hal ini terjadi dikarenakan jaringan internet hanya mengenal IP address berkelas.
Metode VLSM ataupun CIDR pada prinsipnya sama, yaitu untuk mengatasi kekurangan alamat IP dan dilakukannya pemecahan network ID guna mengatasi kekurangan IP address tersebut. Network address yang telah diberikan oleh lembaga IANA (yang menyediakan IP address di seluruh dunia) jumlahnya sangat terbatas. Biasanya suatu perusahaan, baik instansi pemerintah, swasta, maupun institusi pendidikan yang terkoneksi ke jaringan internet, hanya memiliki tidak lebih dari 5 - 7 network ID (IP Public).
Dalam penerapan IP address menggunakan metode VLSM, agar tetap dapat berkomunikasi ke internet, sebaiknya pengelolaan jaringannya dapat memenuhi persyaratan: routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai network prefix untuk setiap rute broadcast-nya. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus paket informasi.
Contoh penerapan VLSM
Misal diberi alamat IP CIDR: 130.20.0.0/20.
Mula-mula, hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat: 11111111.11111111.11110000.00000000 = /20.
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktet terakhir subnet adalah 4, maka jumlah subnet = 2x = 24 = 16.
Maka blok tiap subnet-nya adalah:
Ø Blok subnet ke-1 = 130.20.0.0/20,
Ø Blok subnet ke-2 = 130.20.16.0/20,
Ø Blok subnet ke-3 = 130.20.32.0/20, dan seterusnya sampai dengan
Ø Blok subnet ke-16 = 130.20.240.0/20.
Selanjutnya ambil nilai blok ke-3 dari hasil CIDR, yaitu 130.20.32.0. Kemudian, dipecah menjadi 16 blok subnet, di mana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama, yaitu /20 = 2x = 24 = 16. Selanjutnya nilai subnet diubah bergantung kebutuhan, untuk pembahasan ini digunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24. Kemudian, diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru, yaitu:
Ø Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24,
Ø Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24,
Ø Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24,
Ø Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24, dan seterusnya sampai dengan
Ø Blok subnet VLSM 1-16 = 130.20.47/24.
Selanjutnya kita ambil nilai ke-1 dari blok subnet VLSM 1-1, yaitu 130.20.32.0. Kemudian, dipecah menjadi 16 : 2 = 8 blok subnet lagi, namun oktet ke-4 pada network ID diubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32, sehingga didapat:
Ø Blok subnet VLSM 1-1-1 = 130.20.32.0/27,
Ø Blok subnet VLSM 1-1-2 = 130.20.32.32/27,
Ø Blok subnet VLSM 1-1-3 = 130.20.32.64/27, dan seterusnya sampai dengan
Ø Blok subnet VLSM 1-1-8 = 130.20.32.224/27.
Metode VLSM hampir serupa dengan CIDR, hanya blok subnet hasil dari CIDR dapat kita bagi lagi menjadi sejumlah blok subnet dan blok alamat IP yang lebih banyak dan lebih kecil lagi. - Supernetting adalah teknik penggabungan beberapa subnet. Manfaatnya adalah mempersingkat routing table pada router sehingga menghemat memori penyimpanan pada router tersebut.
| /CIDR (Network Prefix) | Netmask | Jumlah Host |
|---|---|---|
| /32 | 255.255.255.255 | 1 |
| /31 | 255.255.255.254 | 2 |
| /30 | 255.255.255.252 | 4 |
| /29 | 255.255.255.248 | 8 |
| /28 | 255.255.255.240 | 16 |
| /27 | 255.255.255.224 | 32 |
| /26 | 255.255.255.192 | 64 |
| /25 | 255.255.255.128 | 128 |
| /24 | 255.255.255.0 | 256 |
| /23 | 255.255.254.0 | 512 |
| /22 | 255.255.252.0 | 1.024 |
| /21 | 255.255.248.0 | 2.048 |
| /20 | 255.255.240.0 | 4.096 |
| /19 | 255.255.224.0 | 8.192 |
| /18 | 255.255.192.0 | 16.384 |
| /17 | 255.255.128.0 | 32.768 |
| /16 | 255.255.0.0 | 65.536 |
| /15 | 255.254.0.0 | 131.072 |
| /14 | 255.252.0.0 | 262.144 |
| /13 | 255.248.0.0 | 524.288 |
| /12 | 255.240.0.0 | 1.048.576 |
| /11 | 255.224.0.0 | 2.097.152 |
| /10 | 255.192.0.0 | 4.194.304 |
| /9 | 255.128.0.0 | 8.388.608 |
| /8 | 255.0.0.0 | 16.777.216 |
| /7 | 254.0.0.0 | 33.554.432 |
| /6 | 252.0.0.0 | 67.108.864 |
| /5 | 248.0.0.0 | 134.217.728 |
| /4 | 240.0.0.0 | 268.435.456 |
| /3 | 224.0.0.0 | 536.870.912 |
| /2 | 192.0.0.0 | 1.073.741.824 |
| /1 | 128.0.0.0 | 2.147.483.648 |
| /0 | 0.0.0.0 | 4.294.967.296 |
| Static Routing | Dynamic Routing |
|---|---|
| Berfungsi pada protocol IP. | Berfungsi pada interrouting protocol. |
| Router tidak dapat membagi informasi routing. | Router membagi informasi routing secara otomatis. |
| Routing table dibuat dan dihapus secara manual. | Routing table dibuat dan dihapus secara otomatis. |
| Tidak menggunakan routing protocol. | Terdapat routing protocol, seperti RIP atau OSPF. |
Pada OS Linux, terdapat sintaks-sintaks terkait dengan static routing. Berikut penjelasan beserta contohnya.
- ip, gunanya untuk melakukan konfigurasi dan melihat static routing. Misalnya, untuk menampilkan tabel routing saat ini, ketikkan perintah:
ip route show
Contoh hasil output dari perintah tersebut:
192.168.2.0/24 dev eth1 proto kernel scope link src 192.168.2.1
192.168.1.0/24 dev eth0 proto kernel scope link src 192.168.1.2
default via 192.168.1.254 dev eth0
Kita dapat menambahkan static routing menggunakan perintah berikut:
ip route add {NETWORK/NETMASK} via {IP} dev {DEVICE}
Misalnya untuk network 192.168.55.0/24 tersedia melalui 192.168.1.254 di jalur eth1, berikut perintahnya:
ip route add 192.168.55.0/24 via 192.168.1.254 dev eth1 - route, gunanya untuk menunjukkan/memanipulasi IP routing table.
Contoh: route add -net 192.56.76.0 netmask 255.255.255.0 dev eth0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar