Minggu, 09 Juni 2013

Modul 4: Simulasi Subnetting & Routing (Part I: Cisco Packet Tracer)

       Postingan ini merupakan sambungan dari postingan sebelumnya. Setelah melakukan pembagian IP dengan pemilihan metode subnetting yang digunakan, sekarang saatnya simulasi. Mengapa simulasi? Sebab hal ini sangat menghemat biaya dan waktu dalam mengatur pembagian IP dalam jaringan, daripada langsung membagi IP dengan komputer yang jumlahnya banyak apalagi belum tentu pembagian IP yang dilakukan ke seluruh host di dalamnya sudah benar.
       Pertama, simulasi yang saya lakukan ketika menjalani praktikum ialah simulasi menggunakan program GUI yang dinamakan Cisco Packet Tracer.

Ini adalah gambar topologi yang sudah kita cari subnet dan range IP-nya.

Kita hanya bisa memberi IP di tiap – tiap host dan juga router nya. Di sini saya akan mencontohkan bagaimana cara mengisi  IP pada host dan juga router. Kemudian saya akan mencontohkan cara routing dari sebuah router ke sebuah network ID  yang akan dituju.
Saya akan mencontohkan dengan subnet kecil ini atau subnet E dan F pada bahasan sebelumnya.
Subnet E memiliki
•    Subnet :  /30
•    Network ID : 10.51.112.0
•    Range IP : 10.151.112.1 - 10.51.112.2
•    Broadcast ID : 10.51.112.3
Dengan data- data Subnet E kita bisa simpulkan bahwa
•    Eth1 Router Monkasel Memiliki IP : 10.51.112.1 (Sebagai Gateway untuk Router Siola)
•    Eth0 Router Siola Memiliki IP : 10.51.112.2

Host Taman Bungkul / Subnet F Memiliki
•    Subnet :  /22
•    Network ID : 10.51.116.0
•    Range IP : 10.151.116.1 - 10.51.119.254
•    Broadcast ID : 10.51.119.255
Dengan data-data Subnet F kita bisa simpulkan bahwa
•    Eth1 Router Siola Memiliki IP : 10.51.116.1 (Sebagai Gateway untuk Host Taman Bungkul)
•    Eth0 Host Taman Bungkul Memiliki IP : 10.51.116.2 – 10.51.119.254 (Pilih salah satu untuk simulasi)
Subnet F :
IP dari host taman bungkul diletakkan pada IP configuration di Interface – FastEthernet
IP address : berisi IP yang akan digunakan oleh host
Subnet Mask : berisi besar Subnet yang dilambangkan dengan format 255.255.x.x (berdasarkan subnet bisa dilihat di tabel network prefix/network mask pada CIDR)
Contoh Pengisian :

Karena setiap host mempunyai gateway maka di host taman bungkul harus diberi gateway yang bisa dimasukkan pada Global – Setting
Gateway dituliskan seperti gambar di bawah ini :

Gateway adalah sebuah alamat kembali pada saat sebuah host / router tidak mengenali alamat penerima pesan.
Untuk bagian Router (Misal Router Siola) sama seperti mengisi IP Host. Langsung diinputkan pada Interface – FastEthernet(yang dituju).
Contohnya :
1.    Eth1 Router Siola Memiliki IP : 10.51.116.1 (Sebagai Gateway untuk Host Taman Bungkul)
 
2.    Eth0 Router Siola Memiliki IP : 10.51.112.2

Untuk yang terakhir Router Monkasel, pengisiannya sama seperti router Siola dengan ketentuan eth1 Router Monkasel Memiliki IP : 10.51.112.1 (Sebagai Gateway untuk Router Siola)


ROUTING
Routing dapat dilakukan hanya pada router. Routing digunakan untuk menyambungkan antar subnet mask.
Berikut cara untuk routing :
1.    Tentukan Network ID mana yang akan dituju, begitu juga subnet dari network ID tersebut
2.    Tentukan arah IP mana yang akan dilewati untuk menuju Network ID tersebut
Pengisian Routing Pada Cisco bisa dilakukan pada setiap router, yaitu terletak pada Routing – Static.
Isi lah dengan mengisi :
•    Network diisi dengan Network ID yang dituju
•    Mask diisi dengan Subnet Mask dari Network ID yang dituju
•    Next Hop diisi dengan arah IP mana yang akan dilewati untuk menuju Network ID
Contoh Pengisian routing pada Cisco dapat dilihat di bawah ini.
 
 Postingan berikutnya membahas simulasi menggunakan UML Linux.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar