Selasa, 07 Mei 2013

DNS, Domain Name Service

       Kali ini, saya akan menjelaskan materi-materi yang didapat saat menjalani praktikum mata kuliah jaringan komputer modul 3. Modul tersebut membahas tentang DNS & DHCP.
       Bahasan pertama saya adalah mengenai segalanya tentang DNS.
       DNS (Domain Name Service/Sistem Penamaan Domain) adalah sebuah sistem yang menyimpan informasi tentang nama host maupun nama domain dalam bentuk basis data tersebar (distributed database) secara hierarkis di dalam suatu jaringan komputer (internet, private network, dsb.).
       Sistem ini dibuat agar memudahkan manusia mengakses suatu halaman web dengan cara memasukkan alamat situsnya dibandingkan dengan memasukkan suatu alamat IP dari situs yang diakses tersebut. Contoh simpelnya, orang akan mau mengakses situs ITS secara daring/online dengan mengetikkan alamat situsnya: www.its.ac.id dibandingkan dengan mengetikkan alamat IP dari situs tersebut: 202.46.129.20. Sebenarnya sama saja mengakses suatu situs web dengan kedua cara tadi. Tapi mengapa kedua halaman web yang tampil melalui kedua cara tadi bisa sama persis? Itu karena alamat situs yang kita ketikkan diterjemahkan menjadi alamat IP oleh server yang menangani penerjemahan DNS, yang disebut server DNS.
       Struktur sebuah nama domain (struktur dari DNS) adalah sebagai berikut.
  1. Root Level
    Merupakan level utama (level paling penting) sekaligus level awal dari sebuah domain, di mana ketika DNS server akan mencari sebuah alamat domain, maka yang pasti diakses terlebih dahulu adalah root level. Lambang dari root level hanyalah sebuah tanda titik (.).
  2. Top Level Domain (TLD)
    Merupakan level kedua setelah root level di mana ketika DNS telah mengakses ke root, maka akan langsung mengakses ke level ini. Ada dua macam TLD, yaitu Global Top Level Domain (gTLD) dan Country Code Top Level Domain (ccTLD). gTLD adalah seperti yang didefinisikan di atas. Contohnya antara lain: .com (untuk komersial), .net (untuk networking), .edu (untuk edukasi/pendidikan) .gov (untuk lembaga pemerintah non militer), dan .mil (untuk lembaga pemerintah militer). Sedangkan ccTLD adalah TLD yang diperuntukkan untuk masing-masing negara, seperti Indonesia dengan kode ID (.co.id, .net.id, .or.id) atau Singapura dengan kode SG (.com.sg, .net.sg), Australia dengan kode AU (com.au, .org.au), dsb..
    Daftar domain internet di Indonesia:
    • .AC.ID
      Pengguna: Lembaga pendidikan yang sedikitnya memiliki program Diploma 1 tahun (D1), dan beroperasi sesuai dengan perundangan yang berlaku. Termasuk di dalamnya perguruan tinggi yang bukan di bawah naungan Ditjen Dikti Depdikbud, seperti IAIN, Akademi Departemen, dan lain sebagainya.
    • .SCH.ID
      Pengguna: Sekolah (TK, SD, SMTP, SMU, SMK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah) serta lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan PLSM Diknas, seperti lembaga kursus dan sejenis.
    • .CO.ID
      Pengguna: Badan usaha yang mempunyai badan hukum sah serta memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) atau badan hukum sah yang berbentuk PT, PK, atau firma yang memiliki akte serta izin usaha yang terkait.
    • .GO.ID
      Pengguna: Khusus Lembaga milik Pemerintah Republik Indonesia.
    • .MIL.ID
      Pengguna: Khusus Lembaga dalam jajaran militer Republik Indonesia.
    • .NET.ID
      Pengguna: Khusus perusahaan penyelenggara yang memiliki pelanggan eksternal dan bukan merupakan anggota organisasi tersebut. Perusahaan harus merupakan badan hukum sah yang memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) atau badan hukum sah yang berbentuk PT, PK, atau Firma yang memiliki akte serta izin usaha yang terkait.
    • .OR.ID
      Pengguna : Untuk segala macam organisasi yang tidak termasuk dalam kategori domain yang disebut sebelumnya.
    • .WEB.ID
      Pengguna: Ditujukan bagi badan usaha, organisasi, ataupun perseorangan yang melakukan kegiatannya di World Wide Web.
  3. Second Level Domain
    Merupakan level setelah TLD, di mana ketika DNS telah mengakses ke root dan TLD, akan langung mengakses ke SLD. Contohnya: google.com, its.ac.id, dan wikipedia.org.
  4. Sub Level Domain
    Merupakan cabang dari domain di atas, bisa merupakan menu atau aplikasi tambahan pada domain utama. Contoh: mail.google.com, if.its.ac.id, dan office.microsoft.com.
       Dalam DNS, terdapat istilah-istilah yang sering ditemui. Istilah tersebut terdapat dalam software/paket konfigurasi DNS yang sering digunakan di OS Linux: Bind9. Di antaranya adalah sbb..
  • NS (Name Server) record
    Record yang berisi nama server otoritatif untuk suatu zona yang diberikan. Format konfigurasinya: [domain-name] (IN) NS servername, di mana IN = Internet (diberi tanda kurung, artinya opsional) dan servername = nama server DNS yang sebenarnya.
  • MX (Mail Exchange) record
    Record yang berisi domain mail exchange. Format konfigurasinya: [domain-name] (IN) MX [preference] [exchanger], di mana domain-name = nama domain klien/host, preference = menentukan preferensi klien yang diinginkan (isinya berupa angka 0 untuk preferensi tertinggi hingga 65535 untuk yang terendah), dan exchanger = alamat webmail dari domain yang didefinisikan di domain-name
  • A (Address) record
    Record yang menunjukkan alamat IPv4. Nama owner akan ekuivalen dengan alamat IP yang didefinisikan setelah record A. Format konfigurasinya: [domain-name] (IN) A [ip-address]
  • WKS (Well-Known Service) record
    Record yang berguna untuk menyimpan daftar layanan/Service yang dapat didukung oleh host. Kebanyakan situs web tidak menggunakan record ini karena alasan keamanan. Format konfigurasinya: [domain-name] [TTL] (IN) WKS [ip-address] [protocol-list-of-services]
  • HINFO (Host INFOrmation) record
    Record yang berguna untuk menyimpan informasi yang dimiliki suatu host (pabrik pembuat dan tipe sistem operasi/OS-nya). Kebanyakan situs web juga tidak menggunakan record ini karena alasan keamanan. Format konfigurasinya: [host] (IN) HINFO [hosttype] [os]
  • CNAME (Canonical Name) record
    Record yang menjelaskan primary name untuk owner. Nama ownernya disebutkan dalam alias yang merujuk pada nama sebenarnya dari suatu host. Format konfigurasinya: [nickname] (IN) CNAME [hostname]
Semua format konfigurasi tersebut diterapkan dalam file-file konfigurasi Bind9, salah satu contohnya terdapat pada direktori Linux /etc/bin/db.forward. Isinya seperti terlihat pada gambar berikut.
       Kebanyakan situs web sekarang ini menggunakan lebih dari satu server DNS. Satu disebut DNS Master, lainnya disebut DNS Slave. DNS Master adalah server DNS yang bertanggung jawab atas domain dan subdomain yang dikelolanya. Komputer menjalankan fungsi name server berdasarkan database yang dimilikinya. Sedangkan DNS Slave adalah DNS server yang fungsinya untuk membackup DNS Master, sehingga saat DNS Master mengalami down, maka DNS Slave dapat menggantinya. Pada DNS Slave, konfigurasi database domain dan subdomain akan secara otomatis ditransfer dari DNS master.
       Teori gampangannya begini, DNS Slave akan meminta daftar zone dari Master. Master memberikan transfer data zone dari daftar IP yang diperbolehkan. Di DNS Slave, kita tidak perlu lagi secara manual membuat atau mengedit data dari zone yang diinginkan karena secara dinamis akan diambil dari DNS Master. DNS Master memberikan transfer zone dengan melihat IP DNS yang terdaftar di dalamnya.
       Konfigurasi DNS Master & DNS Slave dilakukan dalam file konfigurasi Bind9, di direktori /etc/bind/named.conf.local. Contoh konfigurasinya dapat dilihat pada gambar berikut.

       Pada DNS, dikenal pula istilah zone transfer, yaitu sebuah mekanisme untuk mereplikasi DNS data dari satu DNS ke DNS server lain. Zone transfer digunakan pada saat kita ingin mereplikasi DNS data pada DNS server kita dalam upaya menghemat bandwidth, untuk meningkatkan kecepatan terhadap suatu permintaaan atau untuk membuat DNS data selalu tersedia meskipun pada saat DNS server di internet terputus/down.
       Pembahasan DHCP terdapat pada postingan berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar